Review Film Glass

Review Film Glass

Review Film Glass

HKK879. – Mempertemukan dua karakter ujung tombak dalam dua karya penyutradaraan sangat kesuksesan, fans karya Shyamalan pasti menghadapi kedatangan Glass. Dengan rentang waktu yang teramat panjang,19 tahun sesudah lewat Unbreakable mengenalkan kita pada David Dunn, hanya satu penyintas momen kecelakaan kereta ironis yang kelihatannya memiliki kemampuan fisik jauh melewati manusia biasa, serta Split yang memprioritaskan figur pria dengan 23 kepribadian, diantaranya ialah kepribadian seseorang manusia superhuman berjuluk The Beast, pada akhirnya kita memperoleh cerita sekuel yang sineas M. Night Shyamalan tetap ingin diwujudkannya.

Glass kembali mendatangkan Samuel L. Jackson yang melanjutkan peranannya menjadi Mr. Glass, Bruce Willis menjadi David Dunn serta James McAvoy menjadi Kevin Wendell Crumb, pria yang mempunyai banyak kepribadian. Seperti dalam film-film shared universe yang lain, daya tarik penting dari Glass ialah bagaimana hubungan pada beberapa tokoh dari Unbreakable serta Split ini pada sebuah monitor. Terutamanya pertempuran head to head pada dua superhuman yang awal mulanya tampil di semasing film kiprah mereka. Meskipun demikian, film ini mempunyai nilai plus, sebab bersumber dari materi asli, bukan hadir dari franchise film besar yang telah miliki riwayat panjang.

Sungguhpun demikian, target yang dibidik Glass adalah tiga lapisan yakni: mampu menjembatani dua karya terdahulunya Unbreakable dan Split, seraya memberikannya film tersendiri, dan memperluas universe yang sudah tercipta menjadi sebuah franchise. Hasilnya, adalah sebuah film yang membangun sebuah dunia baru kemungkinan penceritaan. Walaupun kisahnya kental dengan nuansa film superhero modern, perlu ditekankan sebelumnya bahwa Shyamalan sama sekali tidak tertarik untuk menjadikan Glass sebagai film supehero, melainkan sebuah film thrilller, seperti dua film pendahulunya. Hal ini bahkan sudah ia tegaskan kuat-kuat bahkan sebelum perilisan trailer TV terbaru Glass yang di dalamnya menyertakan dialog yang diucapkan karakter Elijah Price,”This won’t be like a comic book.”

Melanjutkan langsung Split, Glass dibuka dengan situasi terkini Kevin beserta 24 kepribadian dalam dirinya yang tengah menyekap empat gadis remaja, setelah lolos dari kepungan polisi di kebun binatang Philadelphia. Dari situ, tersaji perkembangan David Dunn pasca Unbreakable yang rupanya 15 tahun setelah kecelakaan kereta Eastrail 177, Dunn telah menjelma menjadi vigilante berjuluk The Overseer. Bersama putranya, Joseph yang membantunya dari balik layar, ia melakukan patroli rutin di Philadelphia untuk memberi pelajaran pada para pembuat onar sambil mencari jejak The Beast yang menjadi kepribadian paling berbahaya dalam diri Kevin.

Saat akhirnya berhasil berhadapan langsung dengan The Beast, pertempuran pertama mereka terganggu oleh keterlibatan Dr. Ellie Staple beserta pasukannya yang berhasil meringkus keduanya dan menempatkan di pusat rehabilitasi dengan tujuan meyakinkan manusia-manusia luar biasa ini bahwa kemampuan mereka tidak lain hanya halusinasi pikiran belaka. Konflik mulai berkembang saat lokasi itu usut punya usut adalah juga lokasi penahanan Elijah Price selama ini. Mendapatkan jalan untuk mengekspos bahwa ada para manusia super di dunia nyata, Price mulai berusaha memperuncing rivalitas antara Kevin dan Dunn.

Terdengar klise? Boleh jadi. Namun, tentu lain persoalannya jika berbicara mengenai film hasil penyutradaraan Shyamalan. Karena meski semakin mengusung kental elemen film superhero, apa yang dihadirkan di sini sudah tentu tidak seperti kebanyakan film superhero pada umumnya. Shyamalan tetap menyuguhkan ciri khasnya: mengedepankan sektor drama thriller kehidupan kompleks sementara adegan aksi yang disuguhkan hanyalah sebagai pendukungnya.

Apa yang membuat pengalaman menonton Glass berbeda dengan film adaptasi komik superhero pada umumnya adalah bagaimana sang sineas mampu menyusun formula absurd komik: kisah asal-usul, sorotan mengenai para pemain pentingnya, pertempuran besar, dan perubahan aliansi – dalam konteks dunia nyata. Di sini Shyamalan tidak hanya sekadar menunjukkan sajian yang memukau, namun juga menyertakan alasannya yang dijelaskan dalam setiap layernya, yang mana sektor ini teramat jarang digali di film-film superhero.


Related Posts



One comment