Review Film Generasi Micin, Salah Satu Film Milenial Paling Seru

Review Film Generasi Micin, Salah Satu Film Milenial Paling Seru

Hkk879 Dunia perfilman Indonesia saat ini selalu menghadirkan berbagai macam film yang menarik perhatian penontonnya. Seperti film generasi micin ini. Dengan mengusung genre drama, komedi membuat film ini sangat dinikmati penonton apalagi komedinya yang lucu dan selalu membuat ketawa. Jika Anda ingin menonton film ini, ada baiknya Anda membaca review dari filmnya tersebut.

Review film generasi micin, salah satu film milenial paling seru!

Review film generasi micin ini akam membahas segalanya tentang film tersebut. Termasuk dalam segi cerita. Seperti yang diketahui bahwa kebanyakan orang sangat menyukai film yang anti mainstream. Jika Anda termasuk kubu tersebut, maka Anda wajib untuk menonton film ini.

Film generasi micin menceritakan tentang kegelisahan remaja yang menghadapi kehidupannya dalam keluarga, sekolah, persahabatan dan cinta. Film ini berhasil mengangkat tema yang tidak biasa. Ia berani mengangkat tema yang menceritakan kehidupan sesuai realita. Sehingga, film ini tidak takut untuk bicara judul tentang permasalahan remaja masa kini, yaitu generasi micin.

Dalam review film ini, kita dapat mengetahui bahwa generasi micin ternyata tidak senegatif apa yang dipikirkan generasi sebelumnya. Masih ada para generasi micin yang kreatif dan mampu melakukan sesuatu hal yang sangat menarik. Itulah sebabnya Fajar Nugros, sutradara asal Yogyakarta tersebut menjadikan film ini sebagai alat propaganda yang asyik dan menyenangkan.

Dengan balutan komedi yang blak-blakan, drama keluarga yang mendalam serta romansa anak muda yang begitu kental membuat film ini tampak luar biasa. Namun sayangnya, disini masih terlihat adanya plot hole yang membuat Anda seakan aneh saat menontonnya. Apalagi jika Anda sudah membaca novelnya, Anda pasti akan langsung menyadari hal itu. Meskipun begitu, plot hole yang terjadi dalam cerita sama sekali tak mengganggu jalan cerita yang lainnya.

Review film selanjutnya dilihat dari alur cerita film itu sendiri. Dalam alur cerita ini, disampaikan lebih banyak soal keberagamannya. Film ini lebih menceritakan atau menjawab soal anggapan masyarakat dibandingkan dengan menyelesaikan konflik pemeran utamanya. Jadi, sekali lagi telah dibuktikan bahwa film ini ingin mengatakan bahwa generasi micin tidak seburuk yang kalian pikirkan.

Review Film Generasi Micin, Salah Satu Film Milenial Paling Seru

Film generasi micin ini mengangkat para bintang-bintang muda yang beragam. Seperti pemeran utamanya sendiri, yaitu Kevin Anggara. Dalam film ini, Kevin berhasil memerankan karakternya sendiri. Sehingga film lebih terasa feelingnya dan sangat bagus untuk ditonton. Selain itu, kehadiran para aktor dan aktris lainnya juga membuat film ini tampak lebih bersuasana.

Review film selanjutnya dilihat dari visualnya yang diciptakan ala komik digital. Hal tersebut tentu sangat unik dan membuat film ini berbeda dengan film remaja yang lainnya. Efek visual ala komik tersebut tentunya dilakukan oleh seorang profesional bernama Faza Meonk. Disini ia menduduki sebagai co-director serta penulis skenario yang sangat tepat. Seperti yang kita ketahui, Faza Meonk merupakan seorang kreator komik berjudul Si Juki. Visual komik yang ada dalam film ini memberikan kesan menyenangkan serta menggambarkan bahwa generasi micin memiliki kehidupan yang berwarna serta tidak memiliki beban.

Dari film ini, kita bisa menyimpulkan bahwa ke depannya dalam dunia perfilman akan banyak para kreator komik digital yang dilibatkan dalam pembuatan film layar lebar. Hal tersebut harus diakui karena mereka mampu menciptakan sebuah gaya cerita yang unik dan menyenangkan. Selain itu, masyarakat juga sangat menikmati film dengan metode seperti ini. Karena mereka beranggapan bahwa film yang melakukan metode tersebut terlihat tidak pernah kuno.

Review film selanjutnya adalah tentang efek suaranya yang terbantu dengan soundtrack film tersebut. Disini, Anda hanya akan menemukan tiga soundtrack yang hadir dalam film ini. Dan menariknya, Andhika Triyadi yang bertugas sebagai penata musik berhasil menyelipkan ketiga lagu tersebut dalam suasana atau momen yang pas.

Seperti lagu goyang dua jari yang ditampilkan di awal cerita sebagai pembukaan yang menyenangkan. Selanjutnya lagu if only yang jadi klimaks dari semua adegan. Serta ada lagu Delon yang berjudul karena cinta sebagai penutup yang memberikan suasana nostalgia untuk para generasi milenials.

Review film selanjutnya dilihat dari kisahnya yang kuat. Bahkan sang sutradara sendiri terlihat sangat mendalami kegelisahan anak zaman sekarang serta berbagai kemungkinan yang terjadi jika bergesekan dengan zaman sebelumnya. Oleh karena itu, akhirnya sang sutradara berhasil membuat film ini sebagai hiburan sekaligus acuan bagi para generasi Z. Dia mengungkapkan bahwa para generasi Indonesia harus berani menjalani kehidupannya, berani bertanggung jawab ketika salah dan berani memiliki cita-cita yang tinggi.

Itulah review film generasi micin yang perlu Anda ketahui. Agar Anda mampu melihat sendiri bagaimana keseruannya, Anda bisa menonton sendiri film generasi micin tersebut bersama keluarga, teman, atau pasangan sekalipun. Dengan begitu Anda akan mengetahui sendiri seperti apa alur yang disajikan oleh film generasi micin. Selamat menonton.


Review 5 Film Keluarga Terbaik Yang Siap Buat Anda Terpana

Review 5 Film Keluarga Terbaik Yang Siap Buat Anda Terpana

Review 5 Film Keluarga Terbaik Yang Siap Buat Anda Terpana

Hkk879. – Menonton Film lebih baik jika bersama keluarga Anda. Menyaksikan suanansa ini akan terasa terutama dengan orang-orang yang paling dekat dengan kita. Namun, Anda juga perlu tahu genre film apa yang bisa ditonton anak-anak dan orang dewasa. Karenanya, banyak yang mencari film keluarga terbaik atau rekomendasi film keluarga terbaik. Film keluarga adalah genre film yang diperuntukkan bagi anak-anak atau terkait dengan konteks rumah dan keluarga. Film ini juga ditujukan untuk masyarakat umum. Film keluarga juga lebih sering diintegrasikan ke dalam genre lain, seperti musikal, drama, petualangan, bahkan komedi. Dengan ini kami akan review 5 film keluarga terbaik yang siap buat Anda terpana di rumah bersama orang yang Anda cintai.

Review 5 film keluarga terbaik yang siap buat Anda terpana

  1. Hachi: A Dog’s Tale (2009)

Pernahkah Anda mendengar tentang kesetiaan anjing kepada pemiliknya? Anda pasti akan mengatakan bahwa itu adalah Hachiko. Hachi: A Dog’s Tale adalah remake dari Hachiko Monogatari, yang dirilis pada 2009. Film ini didasarkan pada kisah Akita Inu sejati, disutradarai oleh Lasse Hallstrom, dengan naskah yang dibuat oleh Stephen P. Lindsey dan Kaneto Sindo. Anak sekolah itu berbicara tentang pahlawannya yaitu Hachiko, anjing kakeknya. Dalam retrospeksi, anak anjing di biara Jepang dikemas dan dikirim ke Amerika Serikat.

Label pada kotak robek, dan ketika anak anjing meninggalkan kotak di stasiun kereta api di kota kecil Rhode Island, Parker Wilson, seorang profesor musik di Providence, membawa pulang anjing itu. Istrinya tidak senang dengan ini, tetapi karena tidak menemukan pemiliknya, ia membiarkan anjing itu tinggal. Seorang teman Jepang membaca label dengan nama anjing Hachiko atau Delapan, nomor keberuntungan. Parker tidak ingin anjing itu pergi, tetapi temannya menjelaskan bahwa anjing itu akan memiliki kesetiaan yang berbeda. Hingga tragedi itu telah menguji kesetiaannya.

  1. A Christmas Story (1983)

Natal akan datang, dan Ralfi yang berusia 9 tahun hanya menginginkan satu hal: Red Ryder Range 200 Shot BB rifles. Ketika dia menyebutkan ini di meja makan, reaksi ibunya langsung mengalihkan pandangannya. Kemudian dia memilih tema yang sempurna untuk gurunya, tetapi reaksinya tetap sama. Dia berfantasi tentang bagaimana menjadi penunggang merah dan menangkap orang jahat. Ketika hari yang hebat datang, dia menerima banyak hadiah di bawah pohon, termasuk hadiah yang luar biasa dari bibinya, yang juga mencintai ibunya. Tapi bagaimana dengan senjata BB? Ikuti kelanjtan ceritanya dengan menonton film ini.

  1. Mary Poppins (1964)

Film keluarga terbaik biasanya termasuk unsur anak-anak. Mary Poppins adalah film musik fantasi yang dipimpin oleh Robert Stevenson dan diangkat dari serangkaian buku dengan judul yang sama. Julie Andres membuat debut filmnya dalam peran Mary Poppins dan mengunjungi keluarga yang hancur di London. Dia menggunakan gaya hidupnya unik untuk membuat keluarga yang dia kunjungi menjadi lebih baik. Pada tahun 2018, Disney membuat sekuel yang disebut “Return of Mary Poppins” dengan Emily Blunt sebagai peran pemain dalam film ini.

Ketika Jane dan Michael, anak-anak dari keluarga Bank yang kaya. Mereka harus menghadapi prospek pengasuh baru dan mereka dikejutkan oleh kedatangan Mary Poppins yang luar biasa. Memulai serangkaian petualangan fantastis bersama Mary dan temannya Cockney, Bert. Keduanya berusaha mempertahankan sikap yang cerah kepada orang tua mereka.

  1. It’s a Wonderful Life (1947)

Tercengang oleh tanggung jawab keluarga dan rasa tanggung jawab terhadap komunitasnya, George Bailey muda merasa terikat pada perusahaan yang tidak pernah menariknya untuk bekerja dan hidup yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya. Ketika dia semakin besar, dia melihat masa mudanya sebagai impian dan peluang melalui dirinya. Tanpa diketahui oleh George, semua teman dan keluarganya berdoa bahwa dia akan selamat dari masa-masa sulit itu. Dikisahkan dari sudut pandang sekelompok malaikat, dia bertemu malaikat pelindungnya Clarence ketika dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

  1. Modern Times (1936)

Siapa yang tidak kenal Charlie Chaplin. Dalam film Modern Times yang bergenre komedi keluarga ini ditulis oleh sutradara, produser, dan bahkan dibintangi oleh Chaplin sendiri. Film ini adalah ungkapan hati tentang keputusasaan bekerja dan kondisi keuangan yang dihadapi banyak orang selama Depresi Hebat. Film bisu ini  terakhir Chaplin, penuh dengan efek suara dan dibuat dengan hal berbeda yaitu orang-orang dapat berbicara.

Charlie berbalik melawan masyarakat modern, era mesin (penggunaan suara dalam film?) itu adalah  kemajuan. Pertama-tama kita melihat bagaimana dia mati-matian berusaha mengimbangi jalur produksi dengan mengencangkan baut. Dia dipilih untuk bereksperimen dengan mesin makan otomatis, tetapi karena berbagai insiden bosnya percaya bahwa dia gila, dan Charlie dikirim ke rumah sakit jiwa. Ketika dia pergi, dia dibawa untuk komunis serta mengibarkan bendera merah. Meski dia dikirim ke penjara dia dapat melarikan diri dari penjara dan tertangkap kembali.

 


Review Film The Curse of The Weeping Woman 2019

Review Film The Curse of The Weeping Woman 2019

Review Film The Curse of The Weeping Woman 2019

Hkk879. – The Curse of a Weeping Woman mengubah mitos Amerika Latin legendaris dan ini jadi hidup yang menakutkan pada film horor yang di buat oleh New Line Cinema dengan sang direktor James Wan. Film ini juga menandai debut sutradara Michael Chávez, sutradara perintis film pendek The Maiden (2016). Difilmkan di Los Angeles pada tahun 1973, film ini bercerita tentang Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini), seorang pekerja sosial dan seorang janda yang kesepian berjuang untuk menyeimbangkan perannya sebagai orang tua dalam merawat anak dan telah kehilangan suaminya. Sebagai seorang wanita yang skeptis terhadap pertanyaan supernatural, Anna menghadapi banyak contoh imitasi hantu dan mitos dalam pekerjaannya. Wanita ini biasanya temukan kasus pidana yang selalu penuh dengan misteri. Ketika Anna dipanggil untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan pelecehan anak, dia dalam kesulitan. Bagaimana dia menghindari bencana tersebut dalam hidupnya? Anda akan temukan dalam film The Curse of The Weeping Woman 2019.

Review Film The Curse of a Weeping Woman 2019

  • Presentasi cerita yang lemah

Di awal film, penonton disuguhi adegan menegangkan dengan latar belakang “The Weeping Woman atau La Llorona”. Meskipun identitasnya akan terungkap di bagian 3/4 dari film ini. Dibuka dari pemandangan padang rumput di Meksiko 1673 dan menunjukkan keluarga yang bahagia. Urutan beralih ke pemadaman listrik, salah satu anak dari keluarga sedang mencari ibunya. Sekuel berikutnya mengundang publik ke Los Angeles pada tahun 1973, yang menjadi inti cerita. Sutradara memperkenalkan kepada penonton tentang kehidupan keluarga Anna Garcia, dari pekerjaan sehari-hari hingga kehidupan bersama anak-anak. Anna dianggap pecandu kerja yang sedih karena kematian suaminya. Keluarga Garcia akhirnya memberikan rasa integritas keluarga kepada para penonton dalam film ini.

Kutukan seorang wanita yang menangis menciptakan ketakutan akan audiensi dari kasus yang sedang dipertimbangkan oleh Anna. Emosi penonton sedikit tertipu oleh ketakutan dari sosok hantu dan orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan. Kami melihat sesuatu yang serupa di film The Conjuring (2016). Kombinasi keduanya berhasil karena sutradara ingin menunjukkan bagaimana perjuangan keluarga menghadapi teror tegang yang mereka hadapi.

Karena alur cerita film ini diambil dari legenda urban masyarakat Meksiko, para tokoh dari wilayah tersebut juga berpartisipasi dalam kutukan seorang wanita yang menangis untuk memperkuat kisah ini. Meskipun tjuannya untuk membuat takut penonton, kisah tentang asal usul La Llorona tidak cukup. Padahal film inijuga harus bisa menyajikan kisah legenda urban dengan stabilitas lebih besar. Meskipun demikian, film ini entah bagaimana terkait dengan Annabelle (2014). Sangat unik dan menarik untuk menyaksikan langsung film The Curse of The Weeping Woman 2019.

  • Karakter pemain mewakili cerita menarik

Linda Cardellini dalam peran Anna-Tate Garcia mampu memainkan peran sebagai orang tua tunggal yang peduli dengan rutinitas dan menunjukkan kepribadiannya sebagai wanita yang skeptis terhadap okultisme. Peristiwa hebat yang ia alami dalam film ini selamanya mengubah keyakinannya. Film ini juga menampilkan sosok paranormal Raphael Olvera, yang diperankan oleh Raymond Cruz. Karakter ini sangat menarik karena dapat mengangkat mitos La Lorona untuk menjadi lebih hidup, terutama dengan menghadirkan beberapa ritual dan jimat yang menjadi kepercayaan masyarakat Meksiko.

Sosok Patricia Alvarez ditampilkan oleh Patricia Velasquez, berhasil membuat penonton menggigil karena kepribadiannya yang terkutuk dan menyeramkan. Tragedi yang dialami Alvarez sebenarnya membawanya lebih dalam ke plot film ini. Karakter La Llorona yang dilakukan oleh Marisol Ramirez begitu menyeramkan di awal penampilannya. Pada pemeriksaan lebih dekat, wajah La Lorona terlihat seperti Valak. Peran Ramirez kurang terlihat karena perannya menakuti penonton lebih daripada presentasi dialog tentang asal karakter pemain tersebut.

  • Visual dan terdengar sangat menarik

Seperti karya James Van pada umumnya, film ini memiliki banyak lompatan yang dihadirkan kepada penonton. Permainan ini begitu rapi secara visual, misalnya ketika film ini menciptakan adegan menakutkan di lorong dan suasana setelah makan malam yang sangat menyeramkan. Joseph Bishara berhasil menciptakan musik yang kelam dan cukup menyeramkan bagi penonton. Komposer ini benar-benar dikenal karena karyanya dalam film-film horor. Melalui Bishara, urutan yang disajikan kepada penonton mengejutkan dan mampu memainkan emosi sangatkuat.

Jika Anda menyukai film horor, Anda dapat mengundang teman untuk menonton ini bersama dan fil The Curse of The Weeping Woman 2019 telah tayang kemarin pada tanggal 17 April 2019 di bioskop. Pastikan Anda tidak mengundang saudari atau keponakan yang belum berusia 17 tahun, karena ada banyak adegan yang terlalu menyeramkan bagi anak-anak. Anda juga wajib untuk menjadi penonton yang cerdas dan tidak bermain togel wla saat menonton film The Curse of The Weeping Woman 2019 ini. Terima kasih telah berkunjung di sini, semoga info kami bermanfaat untuk Anda.

 


Review film After 2019

Review film After 2019

Review film After 2019

Hkk879 – Film romantis sepertinya menjadi salah satu genre universal. Selain itu, sekarang ada banyak film romantis dari adaptasi Wattpad yaitu film After. Film ini terinspirasi oleh fiksi penggemar dan juga merupakan fiksi penggemar tentang Harry Styles, salah satu peserta boy band One Direction. Bercerita tentang seorang remaja bernama Tessa, mereka baru saja masuk perguruan tinggi dan perlu menyesuaikan diri dengan kampusnya. Tessa, yang tidak bersalah dan masih mencari identitas, bertemu dengan seorang pria nakal yang diam-diam jatuh cinta satu sama lain. Sebagai informasi, pada 2013 Anna Todd mulai mengerjakan seri yang terinspirasi oleh One Direction, ia terbitkan untuk Wattpad. Serial yang dia lakukan, dengan cepat menjadi popular dan bahkan mengumpulkan lebih dari satu miliar pembaca di platform.

Kemudian pada tahun 2014, Anna Todd menerima kontrak untuk buku-buku dengan Simon dan Schuster. Tak lama kemudian, ia juga menjual hak After the Movie kepada Paramount Pictures dan sutradara Jenny Gage dan skenario dari Susan McMartin. Menariknya, ini bukan tentang drama gaya remaja dan lebih mirip dengan versi bul” di FTV , tetapi tentang makna hubungan cinta dan kenakalan remaja. Anda akan disajikan dengan cerita yang mungkin Anda alami atau teman di sekitar Anda. Film ini menyegarkan sebelum perang di Avengers: Endgame (2019) tayang.

Kurang masuk akal tapi agak menawan

Setelah film dibuka dengan beberapa cerita tentang bagaimana momen-momen tertentu dalam kehidupan tampaknya mendefinisikan seseorang. Ini benar-benar klise, tetapi memang benar ada masalah dengan remaja yang mencari identitas. Seperti film romantis seperti About Time (2012), Step Up Series, Mirror Mirror (2012), dan Lucky One (2012) dengan akhir yang bahagia. Ya, mungkin beberapa pemirsa berpikir bahwa ini adalah cinta monyet, terutama karakter yang baru saja kuliah. Ada banyak gadget yang membuat orang dewasa merasa ngeri. Ungkapan bucin adalah yang tepat untuk menggambarkan karakter utama.

Inti dari film After adalah hubungan antara Tessa dan Hardin, yang dibangun dan dikembangkan dengan cara menarik. Cinta pertama bisa membosankan, terutama jika dikombinasikan dengan kerusuhan remaja. Tessa menjalani hidupnya sebagai siswa yang berbakti dan cerdas serta memiliki pria dambaan. Hardin yang hidupnya berlawanan dengannya, dan mencari tahu siapa dia sebenarnya. Dengan demikian, After juga bertindak sebagai cerita baru, ketika Tessa menemukan keinginannya sendiri dan apa yang dia inginkan dari hubungan romantis dan hidupnya. Film ini menyeimbangkan kisah romantis dengan kisah yang agak matang, meskipun lebih rentan terhadap cerita remaja.

Kurangnya dukungan pengembangan karakter

Pasangan utama, Fiennes Tiffin dan Josephine Langford sebagai Hardin dan Tessa, mabuk karena cinta remaja di FTV. Sebuah film berusia 17 tahun ke atas berhasil menggambarkan karakter utamanya, yang dengan jujur ​​menyelidiki seksualitasnya untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Film ini berusaha menambah keragaman pada cerita, berbagi minat romantis dengan teman sekamar Tessa, Steph (Khadija Red Thunder) dan Tristan (Pia Mia). Sayangnya, ia terlalu fokus pada mitra utama, sehingga ia memiliki sedikit waktu untuk pengembangan karakter tambahan.

Sementara itu, Tessa dan Hardin menjadi fokus film ini. Setelah itu, karakter lain kurang berkembang. Teks ini sedikit menderita ketika mencoba membenarkan poin plot utama. Film diputar ke arah tertentu untuk membawa Tessa dan Hardin ke dalam konflik, sementara karakter lainnya adalah penonton. Kisah cinta antara Tessa dan Hardin dieksplorasi dengan sangat erat, sehingga ada banyak close-up pada Langford dan Fyne-Tiffin, yang memungkinkan pemirsa untuk mengalami serangkaian emosi karakter dan momen keintiman.

Penilaian mendukung emosi penonton

Film romantis ini hampir tidak ada efek suara, ini tidak terlalu bagus. Sangat memalukan bahwa emosi yang ditampilkan oleh karakter itu kuat, tetapi tidak ada nada yang mendukung suasana hati. Lirik romantis yang menggambarkan suasana hati terasa baik, seperti lagu-lagu “ood for You dari Selena Gomez feat AP Rocky dan Ariana Grande Dangerous Woman. Kelebihan lain dari film ini juga terletak pada visual dengan warna-warna romantis.

Karena kekurangannya, film ini Gage melakukan pekerjaan dengan baik, merangkum cerita hingga 1 jam 46 menit. Sebuah kisah tentang hubungan cinta yang memberi pelajaran, tentang karakter Tessa untuk  membuat pilihan demi identitas, dan kemandirian. Sementara pada kenakalan remaja, Gage dan McMartin menemukan kisah cinta pertama yang jujur ​​dan “ebih sehat. Film ini adalah tampilan jujur ​​pada cinta pertama dan kebangkitan seksual seorang wanita muda. Film ini dapat menyegarkan karena menawarkan novelnya juga menarik. Film ini telah dirilis di bioskop sejak 16 April 2019. Film ini adalah film dewasa untuk usia 17 tahun ke atas. Setiap orang pasti punya cerita di film-film romantis. Ya, bahkan lebih, pembuat film lebih tertarik untuk membuat film sedekat mungkin dengan nilainya bagi penonton, seperti film After ini.